Stick With You

Discussion in 'Buku' started by Li.Kyuu, Mar 29, 2016.

  1. Li.Kyuu

    Li.Kyuu New Member

    Elinaisha Thahir

    Aku tersenyum melihat namaku terukir di selembar kertas. Selembar kertas yang amat berharga karena membutuhkan waktu 4 tahun untuk mendapatkannya. Dan selama 4 tahun ini, kesibukanku mengajar di sekolah menengah pertama negeri di salah satu kota tempat tinggalku. Menjadi guru konseling untuk masa-masa pubertas memang membutuhkan perjuangan, tapi aku sangat menikmatinya.

    Kesibukan hari Minggu saat ini kugunakan untuk merapikan lemariku yang memang harus di tata ulang. Ku keluarkan isi dalam map khusus ku gunakan untuk menyimpat surat-surat berharga milikku. Dahiku mengernyit saat sebuah kertas yang terlipat terjatuh. Ku buka lipatan itu.

    Tunggulah, 7 tahun lagi aku akan datang menjemputmu...

    Aku mendengus membacanya.

    Kaivan Ardhani

    Namun saat melihat sang pemilik tulisan, sukses menyeretku ke masa di mana aku melewati proses KKN-PPL di salah satu sekolah swasta. Mengingatkanku pada seorang anak laki-laki–salah satu siswa di sekolah itu. Anak laki-laki yang sering menguji kesabaranku saat mengajar kelasnya. Namun entah kenapa, setiap melihat matanya, aku selalu menjadi takut. Tatapan matanya yang tajam dan menusuk, seperti elang. Tatapan mata yang sampai saat ini masih jelas teringat di memoriku. Aku memukul dadaku yang terasa sesak, mataku pun mulai memanas. Aku segera melipat kertas itu lagi dan memasukannya ke dalam map, termasuk semua ijazahku.

    Konyol.

    Itulah sebutan yang cocok untuk hal yang ku hadapi. Di umurku ke 28 tahun ini, aku tetap saja menjadi seperti seorang remaja yang sedang pubertas.

    Seharusnya aku mengikuti kata ibuku untuk menghadiri acara pernikahan sepupuku. Meskipun aku tahu resikonya yang harus ku hadapi nantinya disana. Kak Sofi, selalu saja menanyakan kapan aku menikah, karena dia tak sabar ingin memoles wajahku di hari pernikahanku. Aku tak ikut serta karena jaraknya terlalu jauh dan aku tak bisa berlama-lama berada di dalam kendaraan roda empat. Dan selalu saja menjadi bahan ejekan oleh keponakanku juga. Dan bahkan hingga saat ini, aku tak tahu apa yang membuatku tak kunjung mengubah status di KTP milikku. Hanya karena kalimat dari seorang anak ingusan itu? Tak mungkin. Mungkin lebih tepatnya karena memang belum ada seseorang yang membuat kupu-kupu melayang di perutku. Sekalipun sudah ada beberapa lelaki yang mendekatiku dan bahkan terang-terangan menyatakan keinginan mereka untuk menikahiku.

    Aku menghela nafas sedikit kasar dan menyeret kakiku ke kamar mandi. Mungkin siraman air akan membuatku sedikit lebih tenang.

    ●●●

    Setelah melakukan ritual di kamar mandi yang hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 15 menit untukku, saat ini aku sudah berada di toko buku sebuah mall. Hobiku sejak masa masih berseragam putih biru memang tak bisa lepas. Aku suka mengoleksi novel dan juga komik. Aku pun juga mempunyai ruangan khusus untuk novel dan komik di rumah. Entah jin mana yang membuatku tak pernah bosan melahap ratusan novel dan komik.

    Aku berhenti di sebuah tumpukan komik di salah satu sudut toko buku. Komik Shounen yang menceritakan seorang ninja yang pantang menyerah untuk mencapai impiannya–Naruto ini menjadi komik favoritku. Banyak pelajaran dan hal-hal positif yang bisa ku ambil dari cerita ini. Bahkan terkadang, aku sering menggunakan sang tokoh utama untuk menyemangati anak didikku untuk tak mudah menyerah.

    Ku ambil seri terbarunya dan mencoba mencari yang lain. Mataku asyik membaca judul-judul yang ada dan langkahku terhenti setelah aku menabrak punggung seseorang. Seorang laki-laki bertubuh tinggi.

    "Maaf," kataku sambil sedikit membungkukkan badanku.

    Laki-laki yang ku tabrak tadi berbalik menghadapku. Lelaki itu menggunakan masker, mungkin dia sedang terkena flu.

    "Maaf," ucapku sekali lagi.

    "Hm," gumamnya sambil menatapku.

    Aku tercekat seketika melihat tatapannya, begitu tajam dan seperti menelanjangiku. Tatapan yang kembali menyeretku kembali ke 7 tahun lalu.

    "Permisi." Aku melangkahkan kakiku meninggalkan pria tadi menuju kasir untuk membayar buku yang ku beli.

    Sudah berkali-kali aku menerima tatapan-tatapan tajam dari para muridku dan orang lain, tak ada yang bisa membuatku merasa seperti tadi. Mungkin memang 1 dari sekian orang mempunyai tatapan mengintimidasi seperti pria tadi.

    Kunikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi sambil sesekali menyesap jus mangga yang sudah ku pesan. Tempat ini menjadi salah satu tempat favoritku. Food garden yang berada di mall yang sama dengan toko buku yang sering ku kunjungi. Dan setiap kali aku ke toko buku, aku selalu menyempatkan diri untuk duduk di sini. Food garden di sini benar-benar menyegarkan. Bukan hanya sekedar tempat makan, tapi juga benar-benar hijau seperti di sebuah taman.

    ●●●
  2. Li.Kyuu

    Li.Kyuu New Member

    (Part 2-END)

    Hari Senin adalah awal aktivitasku di sekolah dimulai. Aku mematut diri di cerminku, memastikan penampilanku tak ada yang kurang. Aku sedikit menjepit rambutku ke samping agar terlihat lebih rapi. Untuk make up, aku hanya menyapukan bedak tipis dan lipstick berwarna natural. Aku memang tak suka menggunakan make up berlebihan.

    "Bun, Yah, Naisha berangkat dulu." Aku mencium punggung tangan ayah dan ibuku bergantian, tak lupa kecupanku mendarat di pipi kedua orang tuaku.

    "Hati-hati di jalan, Nai," pesan ibuku.

    "Iya, Assalamu'alaikum."

    ●●●

    Baru 2 jam sejak bunyi bel masuk kelas, aku sudah menerima telepon dari ayahku yang memintaku untuk pulang. Entah sepenting apa orang itu hingga ayahku memintaku untuk izin mengajar hari ini.

    "Nak, kamu bisa minta izin hari ini? Cepatlah pulang, ada yang berkunjung ke sini mencarimu. Nggak usah ngebut naik motornya."

    Bahkan aku belum sempat menanyakan siapa yang mencariku namun sambungan telepon terputus begitu saja. Saat aku mencoba menghubungi ayahku lagi, nomornya sudah tak aktif. Aku tak ingin berpikiran buruk dan segera meminta izin kepada kepala sekolah. Untung saja, jadwal mengajarku hari tak seperti hari biasanya. Hanya satu kelas yang aku lewatkan di hari Senin ini.

    Tak sampai setengah jam, aku pun sampai di rumah. Jarak sekolah dan rumahku memang tak terlalu jauh. Dengan segera ku parkirkan sepeda motorku di samping mobil Rush hitam yang bisa ku pastikan tamu itu adalah sang empunya.

    "Assalamu'alaikum." Aku mengucapkan salam dan dijawab oleh ibuku.

    "Siapa yang nyari Naisha, Bun?"tanyaku tak sabaran.

    "Nak Aldrich lagi sholat dhuha di mushola sama ayahmu. Bentar lagi juga selesai."

    Aku mengernyitkan dahiku mendengar nama itu. Sama sekali tak mengenalnya. Dan tak mengerti kenapa ibuku memanggilnya seperti sudah akrab dengannya.

    "Ganti baju dulu gih," perintah ibuku yang langsung kulakukan.

    "Duduk dulu, nak. Naisha sedang ganti baju. Baru saja sampai juga."

    "Iya, Bun."

    Samar-samar aku mendengar suara ibuku dan lelaki bernama Aldrich. Aku mengenakan dress santai selutut. Saat aku membuka pintu kamarku, ayah dan ibuku tengah berdiri di sana.

    "Ayah sama Bunda pergi sebentar ke rumah eyang kamu," pamit ayahku.

    "Tumben?" tanyaku sambil mengikat rambutku. Karena tak seperti biasanya orang tuaku pergi mendadak seperti ini, apalagi ke rumah eyang. Meskipun satu kota, tapi membutuhkan waktu setidaknya 1 jam untuk sampai ke sana.

    "Kamu ini, mau jenguk eyang kok di tumben-tumbenin?" tegur ibuku.

    "Yaudah deh salam buat eyang." Aku meringis.

    Sesaat setelah suara mobil kesayangan ayahku terdengar meninggalkan rumah, aku keluar untuk menemui Aldrich yang membuatku begitu penasaran, siapakah gerangan.

    Aku membeku di tempatku berdiri setelah mendapat sambutan tatapan mata dari sang empunya.

    Kaivan Ardhani, anak itu kembali.

    Ralat, lelaki itu kini tengah duduk sambil menatapku. Tatapan yang tak pernah berubah sejak dulu. Tatapan dari mata yang sama, orang yang sama. Ternyata, aku masih ingat dengan wajahnya, meskipun kali ini garis wajahnya terlihat lebih tegas.

    "Hai," sapaku kikuk.

    Tak ada respon. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Bingung harus mengatakan dan melakukan apalagi. Aku menundukan wajahku untuk menghindari tatapannya.

    Tangan yang begitu kekar merengkuhku dalam pelukan hanya dalam hitungan detik. Aku merasakan sesuatu yang aneh, dan kupu-kupu itu muncul lagi setelah sekian lama mereka tertidur.

    "Aku merindukanmu, El."

    Satu kalimat yang meluncur dari dirinya membuat pandangan mataku kabur seketika karena genangan di pelupuk mataku. Panggilan untukku darinya masih tetap sama, bahkan sejak dia masih duduk di bangku SMP dulu. Aku menangis tanpa suara. Air mataku meluncur dengan bebas hingga membasahi kemeja yang ia kenakan.

    "Kai.. aku..." Aku mencoba membuka suara.

    "Menangislah sepuasmu, baru bicaralah," katanya menenangkanku.

    Aku mencengkeram kemejanya kuat mengeluarkan semua ganjalan di hatiku yang bahkan tak aku sadari bahwa aku juga merindukannya selama 7 tahun ini. Cukup lama aku menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang itu. Air mataku sudah berhenti, hanya tersisa senggukan kecil. Dan ku rasakan pelukannya mengendur, menuntunku untuk duduk. Dia memberiku minum yang ku pastikan adalah minuman yang dibuat ibuku untuknya.

    "Sudah lebih baikan?" tanyanya.

    Aku memberanikan diri menatap wajahnya. Tak ku duga, dia tersenyum dan tatap matanya menghangat menenangkanku.

    "Sudah lebih tenang?"

    Aku mengangguk menjawabnya.

    "Dari mana tahu alamat rumahku?"

    "Tak sulit."

    "Sejak kapan namamu jadi Aldrich?"

    "Dari dulu juga namaku Aldrich. Kaivan Aldrich Ardhani."

    Aku mencoba mengingat daftar namanya di absen 7 tahun silam.

    "Jangan memaksakan diri mengingatnya," ujarnya lagi.

    "Kemana saja selama ini?" tanyaku lagi

    "Menyiapkan diri untuk menjadi pedampingmu."

    "Maksudnya?"

    Bukan jawaban yang ku terima namun sebuah sentilan mendarat di dahiku. Tak terlalu keras, tapi cukup terasa.

    "Kau sama sekali tak menanyakan keadaanku, El?"

    Kini giliran dia yang bertanya kepadaku setelah ku bombardir dengan pertanyaan.

    "Untuk apa? Sudah jelas kamu baik-baik saja. Kamu ada di sini dan aku melihatnya kalau kamu nggak terluka ataupun sakit sama sekali," jawabku.

    Dia mendengus.

    "Kau selalu seperti anak kecil di hadapanku."

    Aku melotot kearahnya. Apa maksudnya dia mengatakan seperti itu?

    "Besok aku akan datang bersama keluargaku untuk melamarmu secara resmi."

    "Ha?"

    "Elinaisha Thahir, marry me!"

    "Itu memohon atau memerintah?" cibirku saat mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya.

    "Dua-duanya."

    "Bagaimana kalau ternyata aku sudah punya calon pendamping lain?" Aku mencoba mengetesnya. Ada rasa takut yang terselip dalam hatiku.

    "Tak mungkin, kau hanya menungguku."

    Tepat.

    Selama ini yang ku lakukan adalah menunggunya. Entah apa yang mendorongku melakukan hal gila ini. Aku bahkan tak mengetahui keadaannya, bagaimana dia selama ini selepas masa KKN-PPLku. Sekarang anak laki-laki itu sudah berubah. Dia bukan seorang anak lagi, tapi seorang pria yang bisa dipertimbangkan untuk menjadi pedamping hidup seorang wanita.

    "Pede."

    "Itu perlu."

    "Nyebelin."

    "Berhentilah mendebatku, El. Jawab pertanyaanku."

    "Aku tak mendengar kau bertanya padaku."

    "Baiklah, ku tanya. Elinaisha Thahir, maukah kau mendampingiku? Menjadi ibu dari anak-anakku?"

    Aku terkikik geli mendengar pertanyaan terakhirnya yang mengingatkanku pada salah satu karakter di manga Inuyasha.

    "Aku sedang tidak melucu. Jawab, El!" perintahnya dengan nada tegas.

    Aku menunduk mendengarnya. Rasa takut yang muncul tadi mulai semakin besar. Ada rasa ragu. Namun aku juga ingin tetap melihatnya dalam hari-hariku.

    "Aku sudah hampir kepala tiga, Kai...Aku.."

    "Panggil aku Al,"potongnya. "Memang kenapa jika umurmu sudah 30 tahun? Apa kamu takut aku meninggalkanmu nantinya?"

    "Kai... Al, kenapa kamu begitu yakin untuk menikahiku?"

    "Aku tak tahu, tapi aku bisa melihatnya sejak aku masih duduk di bangku SMP."

    Aku menegakkan kepalaku.

    "Aku bisa melihatnya El. Hanya waktu itu aku masih ragu, aku ragu jika apa yang aku lihat itu salah. Bahkan aku tak mengerti juga dari waktu ke waktu aku menjadi semakin yakin untuk menikahimu. Aku bahkan mengambil kelas akselerasi dan semester pendek untuk bisa cepat lulus. Aku tak ingin kamu menungguku terlalu lama. Tapi melihatmu saat di toko buku kemarin, aku tahu kamu sedang merindukan seseorang. Dan itu membuatku ragu lagi. Akhirnya aku putuskan untuk menghadap kedua orang tuamu untuk memastikannya. Aku sudah mendapatkan jawabannya..."

    Aku memeluknya saat menyadari bahwa aku sudah bertemu dengannya. Tatapan mata tajam waktu itu benar-benar miliknya.

    "Aku sangat merindukanmu, Al."

    Tangisku pecah lagi.

    "Aku ingin mendampingimu, tapi aku takut akan kau tinggalkan nantinya. Di saat pemuda seumuranmu, mereka pasti akan mudah berpaling jika melihat wanita yang lebih menarik. Itu yang membuatku takut. Aku tak ingin menunggu lagi," cicitku di sela isak tangisku.

    "Aku tak seperti mereka, El. Kamu bisa pegang kata-kataku."

    "Buktikan."

    "Segera, El."

    Aku memeluknya semakin erat.

    ●●●

    Kamu, anak kecil yang berhasil membuat ukiran nama di hatiku. Kamu, anak kecil yang berhasil mencuri hatiku. Kamu adalah anak kecil kurang ajar yang membiarkanku menghabiskan waktu untuk menunggumu. Tapi kamu, pria yang berhasil membuatku bahagia dengan menyandang status sebagai istrimu, menjadi pendampingmu di masa suka-dukamu, Kaivan Aldrich Ardhani.

    Aku mencium punggung tangannya setelah dia melafalkan kalimat sakral yang resmi membuat kami menjadi suami istri. Ku rasakan kecupan hangat penuh kasih sayang di dahiku.

    Penantianku dan usahamu tak sia-sia, Al..

    (Republish from Wattpad)

Share This Page

nordfx